Masih segar dalam ingatan saya respons menyebalkan dari seorang teman di facebook yang membaca status saya. Alhasil, sekarang setiap kali menulis kata syukur, khayalan saya langsung merujuk pada bayangan seseorang dengan suara setengah berteriak yang menanggapi status saya dengan percaya dirinya sambil emosi di depan orang banyak, padahal apa yang terjadi sama sekali tidak seperti yang ia bayangkan dan bahkan saya tidak ingat kalau dia adalah salah satu teman saya di facebook. Tapi…hmmm….(saya harus menarik nafas dalam terlebih dahulu) mari kita lanjutkan topik ini.
Saya salah satu orang yang paling sering mengeluh, tentang ini, tentang itu. Dan juga orang yang paling rakus, pengennya mendapatkan sesuatu selalu dalam jumlah besar dan tidak mau memulai dari yang kecil terlebih dahulu. Sifat ini juga menjangkit lebih luas kepada hampir semua segi kehidupan saya. Baru saya mencoba mengurangi ini setelah mendapatkan pencerahan dari pengalaman saya bahwa satu itu sudah lebih dari cukup. Bahwa saya hanya butuh untuk fokus pada satu orang pasien untuk menyelesaikan semua requirement yang saya butuhkan di FKG UNPAD. Di situlah saya mulai sadar apa artinya bersyukur, dan bagaimana Allah akan menambahkan rezeki seseorang yang bersyukur dengan baik.
Syukur itu terdiri dari beberapa komponen.
1. Keikhlasan.
2. Usaha
3. Allah
Keikhlasan artinya syukur itu menerima apa yang diberikan Allah dengan baik. Baik implikasinya ya….baik. Ketika anda diberikan satu pasien untuk hari ini oleh Allah, maka anda fokuslah pada satu pasien itu. Kenapa harus mengeluhkan satu pasien yang seharusnya juga bisa datang pada hari ini?
Usaha anda akan menentukan seberapa besar syukur anda nantinya. Jikalau usaha yang anda laksanakan untuk mencari pasien sudah maksimal, lalu apalah lagi yang akan membuat anda mengeluh dengan hasil yang anda dapatkan? Mana yang lebih menyenangkan anda mendapatkan nilai 7 dengan hasil belajar anda semalaman atau mendapatkan 10 dengan mencontek hasil usaha teman anda?
Allah adalah unsur terpenting dari syukur. Dia yang menyimpan janji-janjiNya atas syukur yang anda lakukan. Ketika anda ikhlas, sunnatullahnya anda akan fokus pada apa yang anda punya dan bukan pada apa yang anda inginkan. Ketika anda fokus pada apa yang anda punya, pada pasien yang datang hari ini, anda tentu akan mengerjakan perawatan dengan sebaik-baiknya. Sunnatullahnya lagi, si pasien akan puas dengan apa yang anda kerjakan dan akan datang lagi atau bahkan memberitahukannya pada teman-teman dan kerabatnya, kemudian….anda kebanjiran pasien. Ya…namanya sunnatullah, hukum Allah seperti api pasti panas, air pasti basah. Jadi 99% keadaan ini yang akan terjadi, kecuali Allah berkehendak lain.
Bagaimana menurut anda?



Posted in
Tags: 

