Tidak Mengenal Rasulullah

Saat Ali ra melukiskan Nabi saw, ia berkata, “Beliau tidak terlalu tinggi tidak pula terlalu pendek, melainkan seorang laki-laki dengan tubuh sedang. Beliau tidak memiliki rambut yang terlalu keriting, tidak pula rambut lurus, tapi suatu campuran dari keduanya. Beliau tidak gemuk, beliau tidak memiliki wajah yang amat bulat, tapi agak bulat. Beliau berkulit putih kemerah-merahan, dan memiliki mata berwana hitam yang lebar, dan bulu mata yang panjang. Beliau memiliki sendi-sendi dan tulang belikat yang menonjol, beliau tidak memiliki banyak bulu tetapi memiliki sedikit bulu di dadanya. Sedangkan telapak tangan dan kakinya memiliki kulit yang tebal. Saat beliau berjalan, beliau menggerakkan kakinya seakan-akan beliau sedang berjalan menuruni suatu lereng; saat beliau berpaling, beliau akan memalingkan seluruh badannya. Di antara kedua bahunya terdapat tanda kenabian dan beliau adalah penutup para Nabi. Beliau memiliki dada yang lebih baik dari siapa pun, dan perkataannya lebih benar dari siapa pun lainnya, memiliki sifat yang paling halus dan berasal dari suku termulia. Mereka yang memandang beliau akan segera berdiri terkesima pada beliau dan mereka yang bersahabat dengan beliau mencintai beliau. Mereka yang mencoba melukiskan beliau mengatakan bahwa mereka tak pernah melihat orang seperti beliau sebelumnya maupun sesudahnya. (Riwayat Tirmidzi dari Ali bin Abu Thalib ra)

Pada suatu masa, ketika Nabi Muhammad SAW sedang tawaf di Ka’bah, beliau mendengar seseorang di hadapannya bertawaf sambil berzikir, “Ya Karim! Ya Karim!”

Rasulullah meniru zikirnya, “Ya Karim! Ya Karim!”

Orang itu berhenti di salah satu sudut Ka’bah dan membaca lagi, “Ya Karim! Ya Karim!”

Rasulullah yang berada di belakangnya menyebutnya juga, “Ya Karim! Ya Karim!”

Orang itu merasa dirinya di perolok, lalu menoleh ke belakang dan dilihatnya seorang lelaki yang gagah yang belum pernah dilihatnya.

Orang itu berkata, “Wahai orang tampan, apakah engkau sengaja mengejek-ngejekku, karena aku ini orang badui? Kalaulah bukan karena ketampanan dan kegagahanmu akan kulaporkan kau kepada junjunganku, Muhammad Rasulullah.”

Mendengar kata-kata orang badui itu, Rasulullah SAW tersenyum lalu berkata, “Tidakkah engkau mengenali Nabimu, wahai orang Arab?”

“Belum.” jawab orang itu.

“Jadi bagaimana kamu beriman kepadanya?” tanya Rasulullah SAW.

“Saya percaya dengan mantap atas kenabiannya, sekalipun saya belum pernah melihatnya, dan membenarkan perutusannya walaupun saya belum pernah bertemu dengannya.” jawab orang Arab badui itu.

Rasulullah SAW pun berkata kepadanya, “Wahai orang Arab, ketahuilah aku inilah Nabimu di dunia dan penolongmu nanti di akhirat.”

Melihat Nabi di hadapannya, dia tercengang, seperti tidak percaya kepada dirinya lalu berkata, “Tuan ini Nabi Muhammad?”

“Ya.” jawab Nabi.

Dengan segera orang itu tunduk dan berusaha mencium kedua kaki Rasulullah. Melihat hal itu Rasulullah menarik tubuh orang Arab badui itu seraya berkata, “Wahai orang Arab, janganlah berbuat seperti itu. Perbuatan seperti itu biasanya dilakukan oleh seorang hamba sahaya kepada tuannya. Ketahuilah, Allah mengutus aku bukan untuk menjadi seorang yang takabur,
yang minta dihormati atau diagungkan, tetapi demi membawa berita gembira bagi orang yang beriman dan membawa berita menakutkan bagi yang mengingkarinya.”

Ketika itulah turun Malaikat Jibril untuk membawa berita dari langit, dia berkata, “Ya Muhammad, Tuhan As-Salam menyampaikan salam kepadamu dan berfirman: Katakan kepada orang Arab itu, agar tidak terpesona dengan belas kasih Allah. Ketahuilah bahawa Allah akan menghisabnya di Hari Mahsyar nanti, akan menimbang semua amalannya, baik yang kecil maupun yang besar.”

Setelah menyampaikan berita itu, Jibril kemudian pergi. Orang Arab itu berkata, “Demi keagungan serta kemuliaan Tuhan, jika Tuhan akan membuat perhitungan atas amalan hamba, maka hamba pun akan membuat perhitungan denganNya.”

Orang Arab badui berkata lagi, “Jika Tuhan akan memperhitungkan dosa-dosa hamba, maka hamba akan memperhitungkan betapa kebesaran magfirahNya. Jika Dia memperhitungkan kemaksiatan hamba, maka hamba akan memperhitungkan betapa luasnya pengampunanNya. Jika Dia memperhitungkan kebakhilan hamba, maka hamba akan memperhitungkan pula betapa dermawanNya.”

Mendengar ucapan orang Arab badui itu, maka Rasulullah pun menangis mengingat betapa benarnya kata-kata orang Arab badui itu sehingga air matanya membasahi janggutnya.

Lantaran itu Malaikat Jibril turun lagi seraya berkata, “Ya Muhammad, Tuhan As-Salam menyampaikan salam kepadamu dan berfirman: Berhentilah engkau menangis, sesungguhnya karena tangisanmu, penjaga Arsy lupa bacaan tasbih dan tahmidnya, sehingga ia bergoncang. Sekarang katakan kepada temanmu itu, bahwa Allah tidak akan menghisab dirinya, juga tidak
akan menghitung kemaksiatannya. Allah sudah mengampuni semua kesalahannya dan akan menjadi temanmu di surga nanti.”

Betapa bahagianya orang Arab badui itu, ketika mendengar berita tersebut dan menangis karena tidak berdaya menahan rasa haru.

Inspirasi :

Rasulullah….Muhammad SAW. Kerinduan terhadap beliau bisa saya rasakan cukup besar pada tahun-tahun belakangan ini. Namun sayangnya bukan karena cinta kepada beliau sepertinya. Tapi, kerinduan terasa kala membaca salah satu buku yang mengisahkan keseharian beliau.

Bayangan terbesar yang terlukis adalah betapa luhurnya budi beliau dan andai….sekali lagi andai…beliau masih hidup saat ini, berada di tengah-tengah kami, di tengah-tengah kita semua, memperlihatkan akhlak yang sesungguhnya, akhlak yang dijuluki Aisyah sebagai Al Quran berjalan itu. Tentulah mereka yang menuduh Islam sebagai teroris, mereka yang alergi pada lelaki berjenggot, mereka yang menyembah loteng dan atap (yang di atas), mereka yang mengubah ending lagu Kasih Putih dari grup Nasyid Alginat yang seharusnya ‘ilahi’ menjadi ‘sejati’, stasiun televisi yang hanya mengizinkan orang non muslim untuk berceramah sementara untuk muslim Cuma disuguhi acara makan-makan bersama ustadz, tentu mereka semua akan terkunci mulutnya, tergigit lidahnya karena upaya mereka menjauhkan Islam dari orang-orang muslim.

Dalam suasana yang penuh diskriminasi ini, perintah pengawasan terhadap khutbah dan ceramah di masjid-masjid menjadi sebuah pertanda nyata bahwa muslim di Indonesia sebagai minoritas terbesar di dunia masih harus menghadapi berbagai macam intimidasi dan diskriminasi.

Andai Rasulullah berada di sini, andai Muhammad SAW masih ada…tentu mereka yang ingin menekan Islam akan takluk karena keluhuran budi beliau. Tentu tidak akan ada bom lagi karena mereka yang muslim mendapatkan haknya sesuai dengan yang seharusnya. Andai Muhammad masih di sini…

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks
  • FriendFeed
  • MySpace
  • Twitter
  • Yahoo! Bookmarks
You can leave a response, or trackback from your own site.

One Response to “Tidak Mengenal Rasulullah”

  1. susi says:

    Saya teringat nasyidnya RAIHAN yang mengatakan…”Alangkah indahnya hidup ini, andai dapat kutatap wajahmu. kan pasti mengalir air mataku karna pancaran ketenanganmu…”
    Subhanallah! seandainya saya bisa menatap wajah rasulullah, mungkin paling tidak akan menambah ketenangan dan kesejukan dalam hati.
    Ya rasulullah.. saya rindu padamu……….

Leave a Reply

  • Partner links

  • Partner links